Nama: Luthfiyati Salsabila
NPM: 17519029
Kelas: 1PA07
Kelas: 1PA07
Hallo semua, pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang "Tren Berpakaian Hypebeast" yang sedang di gemari oleh masyarakat di indosesia salah satunya. Silakan membaca dan di pahami kata demi kata :)
Tren Berpakaian Hypebeast
Hypebeast berasal dari kata hyper yaitu menggillai, dari menggilai mereka mulai mengikuti, dan pada akhirnya menggunakan. Seseorang dapat disebut anak hypebeast apabila mereka menggunakan barang yang minimal harganya bisa di bilang sangat tinggi. Seperti contoh seseorang rela membeli sebuah kaos dengan harga 2 juta rupiah, atau sebuah jaket dengan harga 27 juta rupiah. Hypebeast biasanya di dominasi para remaja, dan dipelopori oleh sejumlah artis yang menjadi panutan orang-orang hypebeast. Apabila ada seorang artis yang menggunakan sebuah brand hypebeast maka pakaian ataupun merek tersebut akan menjadi buruan para orang-orang hypebeast meski harganya sudah berubah menjadi semakin mahal.
Hypebeast telah digunakan sejak awal 2000-an untuk menggambarkan “Pemburu Tren” yaitu bagaimana cara seseorang bisa berpenampilan semenarik mungkin dengan brand-brand ternama yang bisa mereka pamerkan kepada lingkungan sekitar.
Seseorang yang hypebeast biasanya hanya menggunakan barang-barang original dengan brand-brand ternama. Mereka hanya membeli barang yang original, dan tidak akan membeli sebuah barang yang tidak asli atau bukan produksi pabrik tersebut, oleh karna itu gaya hidup seperti ini hanya cocok untuk masyarakat dengan pengehasilan menengah ke atas.
Meski demikian tidak sedikit masyarakat yang dengan penghasilan di bawah rata-rata juga berkeinginan bergaya hypebeast dengan cara seperti menggunakan produk yang tidak original atau biasa di sebut KW. Hal ini biasanya di dominasi oleh remaja-remaja yang masih berpenghasilan minim yang ingin mengikuti tren yang ada, memenuhi rasa gengsi, atau ingin terlihat seperti idolanya.
Masalah yang terdapat pada fenomena ini adalah:
1. Menghilangnya cinta kepada kebudayaan
2. Menjadi seseorang yang konsumtif
Pertama, kita sekarang berada di generasi Z dimana yang muda adalah pemimpin era ini. Bahkan tidak sedikit orang dewasa yang ikut berpatisipasi dalam tren ini. Sangat di sayangkan sebuah fakta bahwa remaja sekarang sangat jarang yang menyaring terlebih dahulu perkembangan zaman sebelum menyerapnya. Karna pola fikir seperti ini tertanam di beberapa orang yang menjadi sebuah public figure yang dikagumi oleh masyarakat dari beragam usia. Dengan begitu orang-orang yang mengaguminya akan mengikuti gaya public figure tersebut karna di jadikan sebagai panutan para fansnya. Terutama masayrakat yang usianya lebih muda darinya, karna anak-anak cenderung mengikuti orang dewasa yang mereka kagumi dan yang dapat mereka percaya. Karna pola fikir yang selalu ingin memburu tren yang ada sejak usia dini, Kesempatan masuknya pengenalan tentang budaya akan sangat minim bahkan tidak sedikit anak muda yang menganggap budaya adalah hal yang kuno atau ketinggalan zaman. Sebagai contoh saat hari batik nasional mereka enggan menggunakan batik dan memilih menggunakan pakaian kebanggaan mereka yang di nilai kekinian untuk memenuhi gengsi serta ingin terlihat selalu mengikutin perkembangan zaman, bahkan untuk sebagian perempuan malu untuk mengenakan kebaya. Padahal di zaman sebelum-sebelumnya di Indosesia kebaya adalah pakaian sehari-hari wanita, dari usia anak-anak sampai usia dewasa.
Seharusnya kita bangga akan adanya budaya, Indonesia adalah salah satu negara terkaya soal budaya. Bahkan ada beberapa negara yang ingin memiliki salah satu dari kebudayaan kita ini, salah satunya adalah batik. Keanekaragaman ini adalah sesuatu kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan agar tidak dicuri atau ditiru oleh bangsa lain.
Kedua, para hypebeast biasanya cenderung berlebihan atau konsumtif karna barang yang mereka gunakan adalah barang yang bukan murah nilainya. Bagi mereka yang sudah memiliki penghasilan yang dapat memberinya untuk bergaya hypebeast saya pribadi tidak begitu mempermasalahkannya. Akan tetapi ada beberapa masyarakat terutama remaja yang belum mampu menjadi seorang hypebeast, namun ingin tetap mengikuti tren ini mereka akan mencari cara seperti meminta uang lebih kepada orang tua, mencari kerja sampingan, atau ada yang sampai se extreme membeli barang palsu atau KW demi sebuah gengsi. Bukan hanya di kalangan masyarakat kecil saja, bahkan sejumlah artis juga pernah terlihat memamerkan barang palsu. Ini sangat di sayangkan karna berpakaian itu tidak harus menjadi seperti orang lain, jadilah diri sendiri dan pakailah pakaian yang membuat pribadi nyaman tanpa harus memperdulikan gengsi ataupun perkataan orang lain, apabila seseorang memaksakan menjadi seseorang hypebeast dengan pakaian-pakaian tidak original seorang itu bisa mendapatkan bullyan ataupun cacian dari orang-orang sekitar yang menyadari bahwa barang tersebut tidak original. Karna berpakaian dapat menjadi ciri khas kepribadian seseorang dan bisa menjadikan seseorang itu kreatif dan berani menampilkan jati diri sesuai dengan dirinya.
Solusi untuk masalah ini sangat beragam, salah satunya sebagai anak bangsa harus memiliki inisiatif untuk tetap mau mempelajari setidaknya mengtahui budaya yang di miliki oleh negara Indosesia kita ini, dari mulai pakaian, tarian, bahasa, dan ragam budaya lainnya. Mengenakan batik setidaknya satu kali dalam seminggu, batik memiliki beragam corak. Mulai dari corak yang kalem hingga yang rame atau mencolok, kita bisa memiih sesuai selera, selain itu kita juga bisa mempadu padankan dengan pakaian kekinian seperti bawahan jeans atau jenis lainnya. Tidak ada alasan untuk tidak melestarikan budaya kita karena Melestarikan budaya tidak di batasi oleh usia maupun golongan manapun.
Untuk pemerintah sendiri di harapkan dapat berperan dalam mengembalikan rasa cinta anak bangsa kepada kebudayaan Indonesia, seperti memberikan kegiataan-kegiatan yang bersifat wajib untuk di ikuti. Seperti untuk perempuan harus bisa menari tarian daerah jika ingin naik kelas. Untuk laki-laki di wajibkan bisa pencak silat. Dan menetapkan seragam bercorak batik sebagai seragam wajib di setiap sekolah. Untuk mahasiswa meski di bebaskan untuk berpakaian bebas akan tetapi di dalam satu minggu mereka wajib mengenakan batik, begitu pula untuk orang yang sudah bekerja. Dengan demikian perlahan rasa cinta pada kebudayaan akan muncul dan ada rasa ingin melestarikannya dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Dan untuk permasalahan nomor dua kita bisa menggunakan produk lokal yang harganya pasti lebih murah dan kualitasnya tidak kalah bagus dengan merek ternama lainnya bagi orang-orang yang masih belum bisa memiliki pakaian hypebeast, ketimbang membeli barang palsu. Karna perbuatan tersebut melanggar hak cipta, kita harus menghargai si pembuat aslinya dengan membeli prodak asli mereka. Pada intinya kita di bebaskan untuk mengekspresikan gaya kita dalam bidang berpakaian. Akan tetapi alangkah lebih baik kita tetap melestarikan juga budaya yang kita miliki, kita juga harus pandai memfilter tren yang masuk kedalam lingkungan kita agar tidak menjadikan kita orang yang konsumtif.
Sekian pembahasan kali ini saya berharap bermanfaat bagi kita semua, semoga bangsa Indosesia tetap menjadi bangsa yang memiliki keberagaman budaya yang kaya. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau hal yang tak berkenan di hati, Wasalammualaikum warah matullahi wabarokatu.
Komentar
Posting Komentar