Pelanggaran Profesionalisme
Nama: Luthfiyati Salsabila
NPM: 17519029
Kelas: 1PA07
Hallo semua pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Pelanggaran Profesionalisme yang di lakukan oleh seorang Psikolog.
Selamat membaca :)
Selamat membaca :)
Pernahkah terpikirkan dalam benak anda, bagaimana mungkin
para tentara nazi tega untuk menyiksa orang orang yang ada di consentration camp di
Auschwitz? kenapa mereka patuh pada perintah atasan untuk menyiksa orang orang
tersebut? dimanakah rasa kemanusiaan mereka? Salah satu penelitian di bidang
psikologi yang dilakukan oleh Profesor Stanley
Milgram di tahun 1963 mencoba untuk mengungkap fenomena tersebut.
Experimen “Kepatuhan pada otoritas” dilakukan oleh
Profesor Stanley Milgram (1963) di Universitas Yale. Tujuan utama dari
eksperimen ini adalah untuk menguji seberapa jauh individu akan mematuhi
perintah yang bersifat menyakiti orang lain dari sebuah pihak yang memiliki
otoritas.
Ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan pada
eksperimen ini. Semua orang yang menjadi partisipan dalam replikasi eksperimen
ini merupakan orang yang sehat dan tidak memiliki catatan kriminal apapun.
Partisipan akan diperkenalkan dengan seorang aktor yang berpura pura menjadi
partisipan lain dalam eksperimen. Kemudian, mereka akan diberikan pengantar
singkat terkait eksperimen yang akan dilakukan. Partisipan dan aktor akan
dibagi menjadi dua peran utama, yakni sebagai learner dan sebagai teacher. Sebenarnya, pembagian
peran ini sudah ditentukan sejak awal oleh peneliti, yakni sang aktor menjadi learner dan sang partisipan
menjadi seorang teacher.
Akan tetapi pemberian peran ini akan dimanipulasi menggunakan lotre yang sudah
diseting agar tidak menimbulkan kecurigaan pada partisipan yang nantinya dapat
berpengaruh ke hasil penelitian. Kemudian, partispan dan aktor ditempatkan di
dua ruangan berbeda yang nantinya partisipan diminta untuk memberikan beberapa
pertanyaan dan si aktor akan berpura pura menjawab pertanyaan secara salah.
Partisipan akan ditemani seorang peneliti menggunakan
baju lab berwarna putih. Orang inilah yang akan berperan sebagai pihak
otoritas, yang nantinya bertugas untuk mengawasi partisipan dalam memberikan
hukuman kepada sang aktor dan memberikan perintah kepada partisipan untuk terus
menjalankan eksperimen. Ketika si aktor menjawab pertanyaan dengan salah,
partisipan diminta untuk memberikan hukuman berupa kejutan listrik yang
nantinya sudah dipasangkan kabel di tangan aktor. Kejutan ini pun akan
meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kesalahan, dimulai dari 15 volt
sampai 450 volt. Akan tetapi, sebenarnya kejutan listrik tersebut tidaklah
sungguh sungguh diberikan kepada si aktor. Tapi untuk meyakinkan partisipan,
mereka akan dicobakan diberikan kejutan sungguhan. Respon yang diberikan oleh
aktor pun sebenarnya tidak sungguhan, tetapi berupa rekaman jeritan yang di
putar untuk memberikan efek seolah olah sang aktor kesakitan. Apabila
partisipan meminta berhenti, si pihak otoritas yang mengenakan baju putih
inilah yang akan berusaha untuk menyuruh partisipan agar tetap menjalankan
prosedur eksperimen.
Replikasi eksperimen Profesor Stanley Milgram ini pun memberikan hasil
yang cukup menarik. Lebih dari 50 persen partisipan melanjutkan memberikan
hukuman hingga tegangan yang paling tinggi (450 volt). Dengan kata lain,
mayoritas partisipan akan memberikan hukuman berupa tegangan listrik
membahayakan kepada orang lain hanya karena seseorang memakai baju lab meminta
mereka untuk melakukannya. Hal ini cukup mengejutkan mengingat bahwa sebenarnya
partisipan tidak akan mendapatkan hukuman apapun apabila ia menolak untuk
memberikan hukuman kepada sang aktor.
Meski demikian, terlihat cukup jelas bahwa pada sebuah
titik tertentu, partisipan nampak kebingungan dan merenung sejenak serta
mempertanyakan beberapa hal. Ekspresi wajah yang ditunjukkan partisipan pun
nampak menunjukkan adanya keraguan yang muncul di dalam diri mereka (ada yang
menyipitkan mata, menggigit jarinya, menggaruk kepala, berkeringat, dsb). Dari
sini, ada indikasi bahwa partisipan mengalami sebuah konflik batin. Mereka
dihadapkan diantara dua pilihan; antara memilih untuk tunduk pada pihak
otoritas (pria memakai baju lab putih), atau menolak untuk mengikuti perintah
memberikan hukuman karena mendengar suara jeritan dari sang aktor, yang bisa
jadi dipersepsikan bahwa sang aktor sedang menderita. Terlebih lagi, pemilihan
peran di awal eksperimen yang dilakukan menggunakan lotre (yang mana subjek tidak
tahu bahwa itu sudah dimanipulasi) mengakibatkan partisipan mungkin berfikiran
bahwa ada kemungkinan ia lah yang mendapatkan peran sebagai learner sehingga ada
kemungkinan pula ia yang akan mendapatkan hukuman berupa kejutan listrik.
Pemikiran inilah yang mungkin juga memberikan sumbangan dalam konflik batin
yang dialami oleh partisipan. Konflik batin ini nampaknya semakin kuat seiring
dengan semakin tingginya tegangan yang diberikan, terlebih ketika sang aktor
tidak memberikan jawaban lagi dan tidak memberkan respon apapun setelah
diberikan hukuman.
Analisis
Dari kasus diatas,
perlakuan Profesor Stanley Milgram telah melanggar salah satu prinsip dari profesionalisme yaitu, veracity (kejujuran).
Veracity menurut Chiun dan Jacobs (1997) sama dengan
truth telling yaitu berkata benar atau mengatakan yang sebenarnya. Veracity
merupakan suatu kewajiban
untuk mengatakan yang sebenarnya atau untuk tidak membohongi orang lain atau
pasien (Sitorus, 2000). Prinsip veracity berarti penuh
dengan kebenaran. Sedangakan apa yang
dilakukan oleh Profesor Diederik Stepel sangat bertolak belakang dengan prinsip
profesionalisme ini.
Prinsip ini sangat diperlukan oleh seorang Psikolog dalam
menjalankan experimennya. Seperti dalam kasus di atas experimen yang dilakukan
oleh Stanley Milgram tidak menggungkapkan kejujuran. Alhasil
lebih dari 50 persen partisipan yang menjadi seorang teacher menerapkan eksperimen
tersebut melanjutkan memberikan hukuman hingga tegangan yang
paling tinggi (450 volt). Kepada orang lain hanya karena seseorang memakai baju
lab meminta mereka untuk melakukannya. Sedangkan mereka tidak tau jika
ekesperimen tersebut tidak jujur, yakni seorang learner adalah aktor yang sudah
diberi tahu apa yang harus di lakukannya selama eksperimen tersebut berlangsung.
Tentu saja hal tersebut sangat merugikan banyak pihak.
Sumber:
Jamaluddin, Samudra Fadillia
2017. Eksperimen Milgram: Kepatuhan
Pada Otoritas. https://mindexplorerjournal.com/2017/08/01/milgram-experiment/ (1 Agustus 2017)
Rini,
Sulis. 2010. Nilai, Etik dan moral Keperawatan. https://www.academia.edu/28898199/Nilai_Etik_dan_moral_keperawatan (24
Desember 2010)
Komentar
Posting Komentar