Metode Ilmiah
Metode Ilmiah
Metode berasal dari Bahasa Yunani methodos yang berarti cara atau jalan yang ditempuh.
Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka, metode menyangkut
masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk
mencapai tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu.
Metode ilmiah adalah suatu
prosedur-prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam melaksanakan
penelitian ilmiah. Metode
yang dipakai psikologi sebagai metode kerjanya menurut Dadang Supardan sebagai
berikut:
a.
Metode
Eksperimen
Metode ini menekankan pada pengkajian setiap
variabel (bebas dan terikat) dengan memberikan perlakuan terhadap kelompok
eksperimen, kemudian diukur pengaruhnya perlakuan tersebut.
b.
Metode
Pengamatan (Observasi)
Metode ini dilakukan untuk mengamati sampel penelitian,
baik perilaku binatang maupun manusia yang merupakan titik tolak psikologi.
c.
Metode
Survei
Metode ini digunakan untuk mendapatkan data
secara langsung melalui wawancara atau kuesioner dengan sejumlah sampel yang
banyak.
d.
Metode
Tes
Metode ini dilakukan untuk mengukur segala
jenis kemam-puan, minat, sikap, dan hasil kerja.
e.
Metode
Riwayat Hidup dan Kasus
Metode ini dimaksudkan untuk mengungkap
kasus-kasus yang ditelaah sesuai dengan kebutuhan penelitian. Sebagian besar
riwayat kasus dipersiapkan dengan cara merekonstruksikan riwayat hidup
seseorang didasarkan pada kejadian catatan yang teringat.
Langkah–Langkah
Metode Ilmiah:
1. Perumusan Masalah
Adalah sebuah pertanyaan tentang masalah
yang akan diteliti berdasarkan pengidentifikasian seputar masalah tersebut. Caranya, harus dengan menggunakan pertanyaan
berupa 5W+1H. Misalnya, yang akan diteliti adalah covid-19 Maka, contoh
penentuan masalah tersebut adalah:
“Bagaimana upaya pemerintah dalam menangani
masalah penyebaran covid-19?”
“Kapan pandemi covid-19 berakhir?”
“Kenapa begitu pesat penyebaraan wabah
covid-19?
“Siapa saja yang rentan terinfeksi covid-19?”
“Dimana pusat tempat penyebaran covid-19?”
“Apa saja gejala yang akan timbul ketika
seseorang terinveksi covid-19?”
“Berapa lama seseorang akan merasakan muncul
gejala dari covid-19?”
Nantinya, dari rumusan masalah ini akan
memperoleh tujuan dari penelitian yang mau dilakukan.
2. Mengumpulkan data
Dalam proses ini hal yang akan di lakukan adalah proses pengumpulan data, baik itu data-data baru atau
data-data yang sudah ada pada penelitian sebelumnya. Data-data tersebut berisikan tentang
penelitian yang sedang dilakukan kemudian,
melakukan pengamatan pada objek penelitian, sehingga terbentuk suatu dasar
teori.
Pengumpulan data dapat
dicari dari berbagai sumber, bisa dari internet maupun jurnal ilmiah. Sebagai
contoh:
Dilansir dari sehatQ pada
Rabu (01/4/2020) pagi, dan Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri Kelompok yang
diketahui lebih rentan terinfeksi virus corona. Diantaranya adalah:
1.
Orang
lanjut usia (lansia)
Salah satu kelompok yang
paling rentan terinfeksi virus corona adalah orang lanjut usia (lansia) berusia
60 tahun ke atas. Mengapa lansia lebih rentan terhadap paparan virus corona?
2.
Orang
dengan riwayat penyakit tertentu
Gejala berat dan komplikasi
serius akibat Covid-19 juga dialami oleh orang dengan riwayat penyakit
tertentu, seperti orang-orang yang menderita penyakit tidak menular kronis.
Risiko penyakit kronis dapat meningkat secara bertahap mulai dari usia 40
tahun.
3.
Pria
Pola hidup tidak sehat yang cenderung
dijalani oleh pria. Dari sejumlah fakta yang terkumpul, para pria yang menjadi
korban positif corona memiliki kondisi kesehatan yang mendasari, seperti
tekanan darah tinggi, penyakit paru-paru, atau penyakit jantung.
Dilihat dari penyakitnya, faktor gaya hidup tidak sehat membuat pria terkena
dampak lebih fatal ketimbang wanita yang terinfeksi. Salah satu contoh pola
hidup pria yang tidak sehat adalah merokok, kita semua tahu bahwa merokok akan
berdampak buruk pada kesehatan paru-paru. Kemudian sistem imun tubuh yang
berbeda, faktanya, wanita umumnya lebih cepat
melawan virus, karena mereka lebih banyak memproduksi antibodi “reaktif” yang
mampu menyerang virus yang masuk ke dalam tubuh. Kondisi tersebut akan
menghasilkan autoimun dalam tubuh dengan sendirinya.
3. Hipotesis
Selanjutnya adalah pemembuat dugaan sementara dari masalah
tersebut. Dugaan sementara ini disebut dengan hipotesis. Hipotesis berisikan jawaban sementara dari rumusan masalah yang sudah
ditetapkan sebelumnya. Hipotesis harus berdasarkan fakta dan logis.
Dari data yang diperoleh dari mengumpulan
data diatas dapat menggunakan dugaan sementara
(hipotesis) bahwa, kelompok yang rentan terpapar covid-19 diantaranya adalah, orang lanjut usia (lansia), orang dengan riwayat penyakit tertentu, dan
pria.
4.
Eksperimen
Eksperimen
merupakan suatu percobaan yang dilakukan untuk menguji kebenaran hipotesis yang
telah dirumuskan. Pelaksanaan eksperimen merupakan proses penelitian yang akan
menghasilkan data yang akan dianalisis untuk dibuktikan kebenarannya. Tujuan dari analisis ini adalah kita
ingin membandingkan data hasil percobaan yang dibuat dengan data hasil
eksperimen pada percobaan-percobaan sebelumnya. Caranya, dengan melakukan
percobaan yang dapat dilakukan di laboratorium atau di luar laboratorium.
Misalnya, dengan
dugaan sementara bahwa Kelompok yang
rentan terpapar covid-19 diantaranya adalah, orang lanjut usia (lansia), orang dengan riwayat penyakit tertentu, dan
pria. Maka hal tersebut dapat dilakuakan penelitian di dalam lab yang
melibatkan beberapa ahli untuk memandu jalannya eksperimen.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok terbanyak yang rentan terkena covid-19 adalah lansia
dengan usia berkisar 80 keatas, kemudian dari data tersebut juga didapati
Cardiovascular memiliki presentase lebih tinggi dan rentan terhadap covid-19
ketimbang penyakit yang lainnya. Cardiovascular adalah penyakit jantung dengan
berbagai kondisi terjadi penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang dapat
menyebabkan serangan jantung, nyeri dada (angina), dan stroke. Dan yang
terakhir dari data tersebut adalah pria lebih rentan terpapar covid-19
ketimbang wanita.
5.
Menarik Kesimpulan
Kesimpulan didapat dari data
yang telah dianalisis dan diuji untuk dapat menerima atau menolak hipotesis
yang ada. Jika data yang dikumpulkan
sesuai pernyataan dalam hipotesis maka hipotesis dianggap diterima. Namun jika
data yang diperoleh tidak mendukung hipotesis maka hipotesis yang telah
diajukan ditolak.
Dari hipotesis
yang telah dibuat sebelumnya, dan ekesperimen yang sudah dijalankan maka
hipotesis dapat diterima.
6. Mempublikasikan
Hasil
Langkah terakhir adalah
mempublikasikan hasil. Hasil penelitian yang telah dilakukan perlu
dipublikasikan agar pihak lain dapat mengetahui hasil penelitian yang
telah lakukan. Hal ini juga dapat
digunakan dengan tujuan melindungi penelitian dari hak cipta.
Contoh Metode Ilmiah:
PENYAKIT
KULIT SKABIES
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Pemeliharaan hygiene perorangan
diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan dan kesehatan. Seperti pada
orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri, pada orang sakit
atau tantangan fisik memerlukan bantuan perawat untuk melakukan praktik hygiene (kesehatan)
yang rutin. Selain itu beragam faktor pribadi dan sosial mempengaruhi
praktik hygiene. Praktik hygiene sama dengan
peningkatan kesehatan. Kulit merupakan garis tubuh pertama dari pertahanan
melawan infeksi. Sikap seseorang melakukan kesehatan perorangan dipengaruhi
oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah faktor pengetahuan. Pengetahuan
tentang pentingnya kesehatan dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi
praktik hygiene. Kendati demikian pengetahuan saja tidak cukup. Seseorang
juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri.
Perilaku untuk membersihkan diri sangat penting dalam
upaya mencegah kesakitan dan mencegah terjangkitnya penyakit terutama penyakit
yang berhubungan dengan kurangnya kebersihan diri. Kurangnya kebersihan diri
bisa menimbulkan penyakit, misalnya skabies. Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh gangguan
dari kutu atau tungau yang disebut Sarcoptes Scabiei. Umumnya,
penyakit ini menyerang masyarakat yang tinggal berkelompok dalam satu tempat
secara bersama, khususnya siswa penghuni asrama. Penyakit ini menular dari
hewan ke manusia (zoonosis), manusia ke hewan, bahkan dari manusia ke
manusia. Cara penularannya adalah lewat kontak langsung maupun tak langsung
antara penderita dengan orang lain, melalui kontak kulit, baju, handuk dan
bahan - bahan lain yang berhubungan langsung dengan si penderita. Julukan
skabies sebagai penyakitnya anak asrama atau pesantren, alasannya karena anak
asrama dan pesantren suka bertukar, pinjam - meminjam pakaian, handuk, sarung
bahkan bantal, guling dan kasurnya kepada sesamanya, sehingga disinilah kunci
akrabnya penyakit ini dengan dunia keasramaan dan pesantren.
Penyakit kulit skabies
menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam
pengobatannya harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh pada semua orang
dan lingkungan pada komunitas yang terserang skabies, karena apabila dilakukan
pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit skabies
ini. Skabies merupakan penyakit kulit yang terabaikan, dianggap biasa saja dan
lumrah terjadi pada masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia. Padahal tingkat
prevalensi skabies ditinjau dari wilayah, usia maupun jenis kelamin relatif ada
hampir di seluruh di dunia dengan tingkat yang bervariasi. Penelitian untuk
mengobati penyakit skabies telah banyak dilakukan oleh peneliti, namun masih
menyisakan masalah resistensi dan efek samping obat. Selain itu adanya infeksi
sekunder setelah infestasi skabies menimbulkan masalah yang lebih parah pada
kulit bahkan menyebabkan kematian. Pencegahan penyakit skabies dipandang lebih
efektif dalam mengendalikan tingkat prelevansi skabies yang bersifat sporadik,
endemik dan epidemik. Pencegahan skabies melalui pendidikan masyarakat menjadi
satu tantangan bagi akademisi untuk menekan prevalensi skabies.
B.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar
belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian, yaitu:
1. Apakah
terdapat pengaruh hygiene perorangan (personal
hygiene) terhadap angka kejadian skabies di pondok pesantren ?
2. Bagaimana
cara pencegahan penyakit skabies di lingkungan pondok pesantren ?
C.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui pengaruh hygiene perorangan terhadap munculnya
penyakit skabies di lingkungan pesantren.
2. Untuk
mengetahui cara pencegahan penyakit kulit skabies.
D. MANFAAT
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai pengaruh hygiene perorangan
terhadap kejadian skabies di pondok pesantren,dan memberi masukan kepada
santri, pengurus pondok pesantren, maupun masyarakat agar dapat meningkatkan
kebersihan diri untuk mencegah terjadinya skabies.
E. HIPOTESIS
Personal hygiene atau hygiene perorangan
yang buruk dapat mengakibatkan kejadian penyakit skabies. Personal
hygiene atau kebersihan pribadi merupakan perawatan diri sendiri yang
dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun
psikologis. Personal hygiene ini dipengaruhi oleh berbagai
faktor, diantaranya budaya, nilai sosial individu atau keluarga, pengetahuan
dan presepsi mengenai personal hygiene. Personal
hygiene sangat penting dipelihara, jika hal ini tidak diperhatikan
maka akan muncul berbagai dampak, terutama penyakit kulit seperti skabies
dan personal hygiene yang buruk akan meningkatkan kejadian
skabies. Penularan skabies dapat terjadi melalui kontak langsung dengan
penderita skabies atau kontak dengan benda - benda yang terkontaminasi oleh
skabies sehingga bisa menimbulkan endemik skabies. Selain mengganggu
kesehatan, personal hygiene yang kurang terjaga juga
menyebabkan dampak psikososial dimana seseorang menjadi tidak nyaman dan tidak
percaya diri di lingkungan sosialnya sehingga akan mempengaruhi perkembangan
psikisnya. Pencegahan skabies pada manusia dapat dilakukan dengan cara
menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah penggunaan
barang-barang penderita secara bersama-sama. Kebersihan tubuh dan lingkungan
termasuk sanitasi serta pola hidup yang sehat akan mempercepat kesembuhan dan memutus
siklus hidup kutu atau tungau.
F. PENGUMPULAN
DATA
Dalam penelitian mengetahui
pengaruh personal hygiene terhadap perkembangan penyakit
scabies, diperlukan pengumpulan data dari setiap penghuni pondok pesantren.
Pada penelitian ini akan diambil sampel dari pondok pesantren. Data yang
dikumpulkan merupakan data primer, merupakan data yang diperoleh dari hasil
kuesioner yang diisi oleh santri dan pemeriksaan langsung terhadap sampel yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium. Setelah itu dilakukan penghitungan
(scoring) terhadap kuesioner untuk menilai status hygiene perorangan
(skala ordinal) berdasarkan sistem skor menurut Warijan. Dikatakan
status hygiene baik bila 80% - 100% dari total skor (27-30),
status hygiene cukup bila 65% - <80% dari total skor
(20-26), dan status higiene kurang bila <65% dari total
skor (<20). Dan kejadian infestasi Sarcoptes scabiei, (skala
nominal) dibedakan menjadi Positif (terinfestasi) dan Negatif (tidak
terinfestasi). Setelah data diperoleh, lalu data dianalisis dengan uji chi-square dengan
menggunakan program Statisical Program for Social Science (SPSS
15) for Windows.
Deskripsi
Data
Tabel 1. Distribusi status hygiene santri
di pondok pesantren.
|
Status Hygiene
|
Jumlah
|
%
|
|
Kurang
Cukup
Baik
|
42
55
3
|
42
55
3
|
|
Jumlah
|
100
|
100
|
Tabel 2. Kejadian infestasi S.scabiei pada
santri pondok pesantren.
|
Infestasi S.scabiei
|
Jumlah
|
%
|
|
Positif
Negatif
|
43
57
|
43
57
|
|
Jumlah
|
100
|
100
|
Tabel 3. Persentase hubungan antara status higiene perorangan
dengan infestasi S.scabiei pada santri pondok pesantren.
|
Status Hygiene
perorangan
|
Infestasi S.scabiei Positif
|
Infestasi S.scabiei Negatif
|
||
|
Jumlah
|
%
|
Jumlah
|
%
|
|
|
Kurang
Cukup
Baik
|
29
14
0
|
29
14
0
|
13
41
3
|
13
41
3
|
|
Jumlah
|
43
|
43
|
57
|
57
|
Tabel 2 di atas menunjukkan
bahwa santri yang tidak terinfestasi S.scabiei (57%) lebih
banyak daripada santri yang positif terinfestasi (43%). Karena
status hygiene perorang merupakan faktor yang mempengaruhi
kejadian infestasi S.scabiei, maka penelitian
selanjutnya adalah untuk mengetahui hubungan antara status hygiene perorang
dengan infestasi S.scabiei yang terlihat pada tabel 3. Dari
tabel tersebut didapatkan 29 santri (29 %) dengan status hygiene perorang
kurang, positif terinfestasi S.scabiei, 14 santri (14 %) dengan
status hygiene perorang cukup positif
terinfestasi S.scabiei, dan 0 santri (0 %) dengan status hygiene perorang
baik positif terinfestasi S. scabei. Sedangkan 13
santri (13 %) dengan status hygiene perorang
kurang tidak terinfestasi S. scabiei, 41 santri(41 %)
dengan status hygiene perorang cukup tidak terinfestasi S.
scabiei, dan 3 santri (3 %) dengan status hygiene perorang
baik tidak terinfestasi S. scabiei. Tabel
– tabel di atas menunjukkan bahwa infestasi S.scabiei lebih
banyak dijumpai pada santri dengan status hygiene kurang dibandingkan
dengan status hygiene cukup atau baik. Berdasarkan data
tersebut, pada uji hipotesis dengan uji chi-square dijumpai
hubungan yang bermakna (p=0,000) antara status hygiene perorangan
dengan infestasi S.scabiei pada santri di pondok pesantren.
G. PENGUJIAN
HIPOTESIS DAN PEMBAHASAN
Skabies adalah suatu
infestasi pada kulit manusia yang disebabkan oleh penetrasi parasit obligat
yaitu S. scabiei var hominis ke dalam epidermis. Kutu dapat
hidup di luar kulit hanya 2-3 hari pada suhu kamar 21⁰C dengan
kelembaban relatif 40 - 80 %. Kutu betina berukuran 0,3-0,4 mikron, kutu jantan
membuahi kutu betina kemudian mati, lalu kutu betina ini akan menggali lubang
ke dalam epidermis lalu membuat terowongan di dalam stratum korneum, dan
meletakkan telur - telurnya di terowongan tersebut. Sarcoptes
scabiei hidup di dalam terowongan tersebut selama 30
hari. Diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terkena
skabies. Prevalensi meningkat di daerah perkotaan dan padat penduduk. DI
indonesia prevalensi skabies masih cukup tinggi. Menurut Departemen Kesehatan
RI 2008 prevalensi skabies di Indonesia sebesar 5,60 - 12,95 % dan skabies
menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering.
Penularan skabies berkaitan
erat dengan sosio ekonomi yang rendah, hygiene perorang yang
jelek, lingkungan yang tidak saniter, perilaku yang tidak mendukung kesehatan
serta kepadatan penduduk. Pada pengumpulan data penelitian didapatkan 20
responden dengan kriteria eksklusi. Dari 100 santri yang diperiksa 43 % (43 santri)
terinfestasi S.scabiei dan 57 % (57 santri) tidak
terinfestasi S.scabiei. Status hygiene perorang
yang kurang memiliki angka kejadian tertinggi. dan yang terendah pada
status hygiene perorang yang baik. Dari hasil uji hipotesis
dengan uji chi-square dijumpai adanya hubungan yang bermakna
antara status hygiene perorangan dengan kejadian
infestasi S.scabiei pada santri pondok pesantren (p=0,000).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Teguh Wahyu Sardjono dan kawan -
kawan (1998) yang menyatakan bahwa hygiene perorangan
merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap angka kejadian skabies.
Tingginya angka kejadian skabies di kalangan santri disebabkan oleh karena
sebagian besar santri memiliki perilaku kebersihan yang kurang, jadi semakin rendah
status hygiene santri semakin besar kemungkinan santri
menderita skabies, karena status hygiene perorangan santri
mencerminkan perilaku hidup santri sehari - hari.
H. SOLUSI
DAN PENCEGAHAN
Pendidikan sebagai solusi
pencegahan penyakit skabies berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan.
Pengetahuan tentang pencegahan, cara penularan penyakit, serta upaya pengobatan
jika telah terinfeksi skabies berpengaruh terhadap perilaku hidup sehat yang
menjaga kebersihan diri sendiri maupun lingkungan yang selanjutnya diharapkan
mampu menekan bahkan meniadakan prevalensi skabies. Domain perilaku pada
hakikatnya perilaku proaktif memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah
resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta
berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatan.
Penyebaran informasi dapat
dilakukan melalui penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat oleh petugas
kesehatan dengan dukungan penuh dari tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan
tingkat pendidikan masyarakat setempat. Metode yang dapat dilakukan antara lain
ceramah, diskusi mapun peer education. Peer education menurut
(Purnomo et al. 2013) lebih berpengaruh terhadap sikap
seseorang dalam tindakan pencegahan penyakit HIV/AIDS dibandingkan metode
ceramah. Hal ini efektif jika tutornya adalah panutan bagi teman - teman
sebayanya. Hal ini disebabkan pada remaja di sekolah menengah dan perguruan
tinggi, teman sebaya mempunyai pengaruh yang sangat tinggi dalam pembentukan
sikap. Mereka akan cenderung memilih sikap yang sama dengan anggota teman
sebayanya, agar mereka tidak dianggap asing oleh kelompoknya. Media yang dapat
digunakan untuk menyebarluaskan informasi untuk meningkatkan pengetahuan
tentang skabies yang tujuan akhirnya adalah pencegahan penyakit skabies yaitu
buku saku, pamflet atau selebaran. Buku saku lebih efektif karena muatan
informasi yang diberikan lebih banyak, dapat dibaca kapan saja dan dimana saja
karena bentuknya kecil.
Untuk pengobatannya, dapat
dilakukan dengan mengoleskan salep khusus untuk penderita scabies atau
ramuan - ramuan alami seperti serbuk lada. Yang terpenting dalam
pengobatan skabies, adalah seluruh orang yang tinggal di tempat yang sama
dengan penderita juga harus diobati. Semua pakaian, handuk, bantal, kasur,
harus dijemur dibawah sinar matahari. Tujuannya agar tungau mati karena sinar
matahari. Pakaian dicuci dengan menggunakan cairan karbol. Dan bila semua telah
dilakukan, yang paling penting adalah mengubah cara hidup sehari - hari dengan
tidak saling meminjamkan pakaian dan barang pribadi lainnya ke orang lain.
Dengan begitu, skabies pasti akan musnah ditelan bumi, dan anak - anak
pesantren pun akan tersenyum bangga, bebas dari penyakit yang selama berabad -
abad identik dengan kehidupannya.
I. KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa hipotesis yang diujikan adalah benar. Personal hygiene atau
kebersihan pribadi seseorang mempengaruhi munculnya penyakit kulit
skabies. Personal hygiene yang kurang terjaga dapat
meningkatkan terjadinya penyakit skabies. Selain itu, kebersihan lingkungan
juga mempengaruhi perkembangan kutu atau tungau yang menjadi faktor penyebab
penyakit skabies. Oleh karena itu, khususnya para santri dan mahasiswa, serta
masyrakat pada umumnya diharapkan dan diwajibkan untuk dapat menjaga kebersihan
pribadi dan kebersihan lingkungan, demi menciptakan masyarakat yang bersih,
sehat, dan sejahtera.
Referensi:
Anonim (2020) Metode.
https://id.wikipedia.org/wiki/Metode
(30 april 2020)
Anonim (2020) Pertanyaan
dan jawaban terkait Coronavirus.
Anonim (2020) Langkah Langkah Metode Ilmiah
Terlengkap dalam Berbagai
Kasus (Rekomendasi).
2020)
Anonim (2018) Langkah –
Langkah Metode Ilmiah.
https://idschool.net/uncategorized/langkah-langkah-metode-ilmiah/
(28 april 2020)
Anonim (2020) Alasan Pria Dinilai Lebih Rentan Mengidap Corona.
Anonim (2015) CONTOH
METODE ILMIAH PENYAKIT SKABIES.
http://biologyody.blogspot.com/2015/10/contoh-metode-ilmiah-penyakit-skabies.html
(9 mei 2020)
Anonim (2020) Virus corona: Sejauh mana
kemungkinan meninggal jika
terjangkit?.
(9 mei 2020)
Prof. Dr. Drs.I Made Dira Swantara, M.Si. (2015) FILSAFAT ILMU 2.
Komentar
Posting Komentar